Appreciattive Inquiry

Semua Impian Kita Bisa Jadi Kenyataan Kalau Kita Berani Mengejarnya.Louis Pasteur (1822- 1895), Ilmuwan

Pengertian Appreciattive Inquiry

Appreciative Inquiry (AI) adalah sebuah pendekatan baru yang dikembangkan oleh David Cooperrider untuk membantu individu atau komunitas meraih dan mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Karena itu, jika kita bermimpi untuk mewujudkan sebuah DAS yang bebas banjir, maka Appreciative Inquiry dapat menjadi salah satu instrumen utama untuk itu.

Pendekatan ini berpijak pada asumsi bahwa selalu terdapat berbagai bakat, keahlian, cerita sukses, dan sumber daya di dalam masyarakat yang dapat ditemukan dan dikembangkan oleh masyarakat itu sendiri. Pendekatan ini memandang manusia dan komunitas sebagai sebuah kapasitas kekuatan yang dapat mewujudkan banyak hal.  Bahkan dapat mewujudkan hal-hal yang selama ini dianggap sebagai sesuatu yang mustahil, atau hal-hal yang selama ini dianggap hanya sebuah mimpi. Jadi, menurut pendekatan ini, komunitas sesungguhnya memiliki kapasitas untuk menciptakan kondisi bebas banjir (yang menyengsarakan).

Pendekatan kita selama dalam menangani sesuatu yang kita anggap sebagai sebuah masalah adalah melalui pendekatan hadap-masalah (problem posing approach) atau pendekatan pemecahan masalah (problem solving approach). Pendekatan ini dimulai dengan mengidentifikasi masalah, mencari akar masalahnya, dan berupaya menemukan solusi-solusi untuk menangani akar masalahnya.

Jadi, jika ita ingin menangani persoalan banjir, misalnya, kita akan memulai dengan mengidentifikasi semua faktor yang menyebabkan terjadinya banjir, mulai dari faktor-faktor yang berkaitan dengan aspek manusia seperti tingkat kesadaran masyarakat yang rendah atau penegakan hukum yang lemah, dan sebagainya sampai ke faktor-faktor yang bersifat biofisik baik yang dapat dikendalikan maupun yang tidak dapat dikendalikan (seperti faktor iklim).  Semakin komprehensif kita mengidentifikasikan dan mendeskripsikannya, menurut pendekatan ini, itu akan semakin bagus.

Kita kemudian akan berupaya  menemukan akar masalahnya, karena jika kita menemukan akar masalahnya maka, menurut pendekatan ini,  penanganan terhadap akar masalah itu akan memberikan hasil  yang terbaik. Kita lalu akan mencari dan merumuskan solusi-solusi terbaik untuk mengatasi akar masalah tersebut.

Pendekatan pemecahan masalah ini juga yang kerap digunakan dalam berbagai kegiatan pendampingan masyarakat seperti pada program-program pengentasan kemiskinan. Intervensi dari pihak luar, baik itu pemerintah maupun lembaga swadaya masyarakat adalah dengan mengasumsikan bahwa persoalan komunitas miskin merupakan sebuah persoalan yang harus diselesaikan. Langkah pengembangan komunitas miskin ini selalu diawali dengan identifikasi persoalan dan kebutuhan (need assesment), analisis penyebab masalah, analisis solusi dan implementasinya.

Efek psikologis yang ditimbulkan dari pendekatan ini adalah kita akan merasa bahwa ternyata masalahnya banyak sekali dan untuk memecahkannya akan sulit sekali. Di tingkat masyarakat akan muncul sebuah perspektif ketergantungan bahwa hanya pihak luarlah (baca: pemerintah) yang akan dapat memecahkan masalah mereka.

Berapa banyak pihak yang menganggap bahwa kondisi bebas banjir di Indonesia akan bisa dicapai? Sangat sedikit! Umumnya berpendapat kondisi bebas banjir sulit dilakukan, mustahil, tidak mungkin, hanya angan-angan (yang tidak mungkin dicapai), dan sejenisinya. “Pemerintah saja tidak mampu..”

Karena masalahnya sulit dipecahkan, maka  kecenderungan umum pemerintah kita adalah bahwa mungkin pihak luar yang lebih ahli,  yang mampu memecahkan masalahnya. Buktinya: berapa banyak studi yang sudah dilakukan oleh berbagai pihak luar (JICA dari Jepang, CIDA dari Kanada, Nedeco dari Belanda, serta dari Perancis) dengan tema flood control (pengendalian banjir?).

Rekomendasi yang diberikan dari studi-studi ini adalah pendekatan struktur yang membutuhkan biaya besar. Sumber dananya? Apalagi kalau bukan dari pinjaman negera-negara itu. Dan karena itu merupakan pinjaman, tentu saja tidak ada yang gratis. Studi-studi itu pun, meski dalam kontraknya merupakan hibah, misalnya, pada hakekatnya tidak gratis.

Namun yang terpenting adalah adakah contoh kota yang dulunya banjir dan setelah melalui studi-studi dari para ekspert negara-negara maju itu kemudian menjadi bebas banjir? Banjir Jakarta adalah contoh bagaimana studi dengan berbagai judul telah dilakukan oleh para ekspert luar negeri dan hasilnya? Yang pasti adalah tahun 2007 terjadi banjir terbesar yang pernah ada di Jakarta.

Karena impelementasi dari studi-studi itu berbiaya mahal dan kemampuan dana pemerintah kita terbatas, banyak hasil studi itu tidak dapat diimplementasikan. Dan karena sejalan dengan waktu terjadi perubahan penggunaan lahan, dan karakteristik hidrologi dari sebuah DAS , dan magnitud banjir semakin bertambah, maka yang dilakukan adalah melakukan studi ulang.

Yang muncul kemudian adalah tuntutan yang semakin keras dari masyarakat kepada pemerintah untuk segera mengatasi masalah banjir ini. Bahkan yang muncul adalah tuntutan class action ke pengadilan.

Deskripsi di atas adalah contoh dari akibat yang ditimbulkan oleh pendekatan ini. Menurut Cooperrider dan Whitney, 2001, dampak negatif dari pendekatan ini adalah lahirnya sikap defensif,  timbulnya rasa sakit, kehilangan visi ke depan, penurunan semangat, dan melahirkan persoalan-persoalan baru .

Lalu, bagaimana dengan pendekatan Appreciative Inquiry?

Pendekatan ini berfokus pada pencarian kekuatan dan inti positif dari komunitas untuk membangun visi yang harus diraih bersama. Aktivitas diawali dengan mengapresiasi apa yang terbaik dalam komunitas, penciptaan impian komunitas, perancangan tindakan, dan melakukan tindakan yang berbasis pada inti positif.

Jika diilustrasikan dalam penanganan banjir, pendekatan appreciative inquiry akan diawali dengan mendatangi komunitas dan mengidentifikan prestasi-prestasi komunitas di masa lalu dan mengidentifikasi potensi dan sumber daya yang dimiliki oleh komuinitas. Tahapan ini akan membangun energi positif di tingkat komunitas bahwa mereka sesungguhnya memiliki banyak potensi,  yang jika terus digalang maka potensi-potensi itu akan dapat digunakan untuk meraih apa yang menjadi impian kolektif mereka.

Tahap berikutnya adalah merumuskan dan menyepakati apa yang menjadi impian kolektif dari komunitas tersebut. Dalam hal ini tentu saja impian kolektif untuk meraih kondisi lingkungan yang bebas banjir.  Jika impian itu yang disepakati, maka fasilitasi dilanjutkan untuk mengidentifikasi gagasan-gagasan komunitas tentang cara untuk mencapainya.

Berkaitan dengan banjir, maka fasilitasi terhadap komunitas itu tidak semata-mata dilakukan pada komunitas yang terkena banjir saja.  Tapi juga terhadap seluruh komunitas di satu wilayah DAS, tentu aja dengan dengan mimpi kolektif yang berbeda, tapi dapat berkontribusi terhadap ikhtiar untuk menciptakan kondisi DAS yang bebeas banjir.

Efek dari appreciative inquiry adalah masyarakat yang percaya diri, antusias dan semangat positif untuk selalu mewujudkan impian bersama. Efek inilah yang muncul ketika Appreciative Inquiry diterapkan di Srilanka, Nepal, Cina dan Afrika (Mc Oddel, 2002; Charles Elliott, 2001).  Berbagai pengalaman dalam penerapan appreciative inquiry ini menemukan bahwa penerapannya melahirkan sebuah semangat positif untuk melakukan langkah-langkah kecil yang bermakna dalam mewujudkan kondisi masa depan yang diidamkan.

Langkah Dasar  Appreciative Inquiry

Langkah dasar Appreciative Inquiry adalah siklus 5-D yaitu Definition, Discovery, Dream, Design dan Destiny (Cooperrider dan Whitney, 2001 & der Haar dan Hosking, 2004).

  1. Definition. Langkah awal Appreciative Inquiry adalah memilih sebuah topik yang akan dieksplorasi (affirmative topic choice). Topik ini menjadi arah perubahan sekaligus kenyataan akhir yang akan terwujud.
  2. Discovery. Tujuan utamanya adalah mengungkap dan mengapresiasikan sesuatu yang memberi kehidupan dan energi kepada orang, pekerjaan dan komunitasnya. Fokus tahapan ini adalah pada cerita positif yang merefleksikan pengalaman puncak baik pada level individu maupun level masyarakat.
  3. Dream. Tujuannya adalah berimajinasi (envision) tentang masyarakat yang ideal di masa depan. Informasi pada tahap sebelumnya dijadikan pijakan untuk berspekulasi mengenai kemungkinan masa depan masyarakat.
  4. Design. Tujuannya adalah menciptakan atau mendesain struktur masyarakat, proses dan hubungan yang mendukung mimpi yang ada. Aktivitas utamanya adalah menciptakan proposisi yang provokatif (provocative propositions) secara kolaboratif.
  5. Destiny. Tujuannya adalah menguatkan kapasitas dukungan terhadap keseluruhan masyarakat untuk membangun harapan, dan menciptakan proses belajar, menyesuaikan dan berimprovisasi. Tahapan ini memberdayakan setiap anggota untuk melakukan tindakan-tindakan yang dapat dilakukan untuk mencapai mimpi atau visi masa depan masyarakat.

Mengapa Appreciative Inquiry Berhasil?

Appreciative Inquiry dapat berjalan karena pendekatan ini memperlakukan manusia sebagai manusia, dan bukan sebagai kumpulan angka (misalnya sebagai persentasi jumlah orang miskin) dan bukan pula sebagai kumpulan pembuat masalah.

Manusia menjalin hubungan dengan orang lain dan menciptakan identitas dan pengetahuannya dalam kesalinghubungan dengan orang lain. Manusia memiliki rasa ingin tahu, suka menceritakan dan mendengarkan berbagai kisah. Manusia menyampaikan berbagai nilai, kepercayaan, dan kearifannya lewat kisah-kisah yang dituturkan. Manusia suka belajar dan menggunakan apa yang dipelajari untuk meraih yang terbaik. Dan manusia merasa senang ketika melakukan sesuatu dengan baik di hadapan orang-orang yang disayangi dan dihormati.

Appreciative Inquiry memungkinkan para pemimpin untuk menciptakan berbagai organisasi manusia yang alami— yakni sarat-pengetahuan, berbasis-kelebihan, serta mampu melakukan pembelajaran organisasi secara adaptif (Whitney, D & Trosten-Bloom, A. 2003). Hasil wawancara yang dilakukan oleh Whitney dan Tristen-Bloom (2003) menunjukkan bahwa Appreciative Inquiry dapat berhasil karena:

  1. Appreciative Inquiry membangun hubungan yang memungkinkan orang untuk dikenal karena hubungannya dengan orang lain, daripada karena peran yang dibawakannya.
  2. Appreciative Inquiry menciptakan kesempatan bagi setiap orang untuk didengarkan.
  3. Appreciative Inquiry memberikan kesempatan bagi setiap orang untuk bermimpi dan berbagi impian.
  4. Appreciative Inquiry menciptakan lingkungan tempat setiap orang dapat memilih cara dalam memberikan kontribusi.
  5. Appreciative Inquiry memberikan keleluasaan dan dukungan untuk bertindak.
  6. Appreciative Inquiry mendorong dan memungkinkan orang bersikap positif.

Sumber:

Budi Setiawan M., M.Psi dan Rakhman Ardi, S.Psi,  “MENUJU INDONESIA IMPIAN: PENCIPTAAN KOMUNITAS SEJAHTERA DAN MANUSIAWI DENGAN PENDEKATAN APPRECIATIVE INQUIRY (SEBUAH PROPOSAL RISET AKSI)” ,  Fakultas Psikologi Universitas Airlangga.

Tulisan ini dipublikasikan di Umum dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *